![]() |
Mudik ke kampung halaman membutuhkan perjuangan ekstra. Terjebak kemacetan berjam-jam di perjalanan tidak mengendurkan semangat untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.(www.cnnindonesia.com)
|
Lebaran tinggal hitungan hari. Seperti tahun-tahun
sebelumnya, jutaan orang meninggalkan kota. Mudik ke kampung halaman. Berjuang
demi bisa berkumpul bersama sanak saudara di hari kemenangan.
Seperti dikutip dari
laman liputan6 dot com (21/07/2017), lembaga Development and Islamic Studies
(IDEAS) memprediksi jumlah pemudik saat
Lebaran tahun ini bisa tembus angka 33 juta orang. Angka ini lebih besar dari
proyeksi jumlah pemudik versi Kementerian Perhubungan yang berkisar 28,99 juta
pemudik.
Meski beda, baik 33 juta maupun 28,99 juta orang, angka
proyeksi ini tetap menggambarkan adanya lonjakan dari Lebaran 2016. Tahun itu
pemudik mencapai 26,36 juta orang. Dan
yang pasti sekitar 65 persen dari semua angka itu adalah pemudik dari Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia
dengan tujuan kabupaten/kota di Jawa
Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta,dan Jawa Timur.
Selain ada lonjakan, arus mudik 2017 juga dibayang-bayangi
insiden kemacetan di pintu keluar tol Brebes Timur. Seperti diketahui, dalam
insiden yang lebih dikenal sebagai peristiwa Brebes Exit atau Brexit itu para
pemudik terjebak kemacetan luar biasa di jalur tol Brebes, Jawa Tengah.
Kala itu, ratusan kendaraan terjebak kemacetan sejak 3
hingga 5 Juli 2016. Bottle neck di pintu tol Brebes yang merupakan imbas belum
benar-benar tuntasnya proyek tol Trans-Jawa tersebut. Dilaporkan insiden ini
mengakibatkan 13 orang meninggal dunia, akibat kelelahan. Begitu hebatnya
peristiwa ini, sejumlah media asing sampai melaporkan moment tersebut.
Uniknya, insiden Brexit tetap tak menyurutkan warga untuk
mudik kembali ke kampung halaman. Perjalanan mudik seorang warga Jakarta menuju
Ungaran, Jawa Tengah meski sudah terhubung dengan ruas tol Trans-Jawa tetaplah membutuhkan
perjuangan lebih. Naik mobil pribadi maupun kendaraan carteran tetap sama
letihnya dengan perjalanan mudik dengan bus AKAP.
Hari-hari ini perjalanan mudik menuju berbagai
kabupaten/kota di Jawa Timur dari Bekasi, Jawa Barat sama beresikonya dengan
perjalanan mudik via jalur darat yang ditempuh sebuah keluarga dari Medan,
Sumatera Utara menuju Muara Enim,
Sumatera Selatan. Namun semua resiko
tersebut tak menyurutkan semangat bertemu keluarga di daerah asal.
Perjalanan mudik seperti tahun-tahun sebelumnya, tetaplah
perjalanan yang beresiko, melelahkan dan penuh perjuangan. Persiapan dana sama
pentingnya dengan persiapan fisik agar berhasil menuntaskan kerinduan dengan
bapak, ibu, paman, bibi, adik, kakak serta para keponakan di kampung kelahiran
atau desa tempat kita tumbuh dan berkembang.
Semua rangkaian mudik yang biasanya dimulai 7 hari jelang
lebaran, akan mencapai klimaksnya saat kita tiba di rumah ayah bunda tanpa
kurang suatu apa. Perjalanan ratusan kilometer terbayar lunas oleh guyuran air
di desa asal.
Lelah dan penat hilang seiring dengan tegukan air pertama
kala buka bersama di ujung Ramadan di rumah orangtua. Gundah gulana karena
deraan kemacetan di jalur Pantura sekonyong-konyong lenyap, bersama kekhusyukan
menyebut asma Allah di malam takbiran di musholla atau masjid di tempat asal.
“Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar. Laa ilaaha
illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.”
Post A Comment:
0 comments: